Membaca pesan terakhir dari arel cukup untuk membuat jantungnya berdebar tak karuan. Buru-buru ia mengambil outer yang digantung di sudut ruang, lalu melangkah keluar.

Begitu pintu pagar dibuka, arel sudah berdiri disana. Masih sama seperti arel yang allie kenal setahun kemarin — hoodie hitam dengan sepatu conversenya, bahkan kebiasaan seperti menggigit bibir bawahnya saat ia gugup, semuanya masih persis seperti yang allie ingat.

allie berdiri di sebelahnya, menunggu arel untuk berbicara lebih dulu.

“it must be hard for you ya ly?” tanya arel memulai percakapan

belum sempat allie menjawab, air matanya sudah turun duluan. Mendengar isakan pelan perempuan disebelahnya, arel langsung menarik tubuh allie ke dalam pelukannya, membisikkan beribu kata maaf.

“all this time, i thought letting you go was the right thing.. and turns out it was the stupidest thing that i’ve ever done to you. I should’ve say no when you asked to end things.” Tangannya mengelus pelan rambut allie.

“if there’s still a part of you that believes in me.. i’ll make sure this time, i won’t let you go again.” tangannya menggenggam jemari allie.

allie menarik napas dalam, mencoba untuk berbicara tetapi suaranya masih tertahan oleh air mata. Ia hanya mengangguk kecil, tetapi cukup untuk arel tahu bahwa ia masih punya tempat di hati allie.

and this time—as their love grows stronger, they trying to be more honest with each other.